Tampilkan postingan dengan label Ceritakan Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceritakan Cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2016

Memperkosa Mimpi


Bro, lihat nih. Artikelnya keren. Judulnya “Memperkosa Tanpa Penis”. Beuh mantap!, kata Cuplis.
Kok bisa ya? Memperkosa tanpa penis, tuh gimana caranya?, tanya Jarno.
Lha kok tanya aku toh? Lu pikir aku tau caranya?
Wo, kamu gak tau toh? Lha trus kenapa pamer artikel itu ke aku? Kamu dah baca belum? Siapa tau di artikel itu ada tips and trik memperkosa tanpa penis.
Ndas mu!!! Ini artikel analitis! Dari pemikiran yang mendalam.
Wo, lewat anal toh? Bisa ya?
Asu kowe ki! Pikiran e jangan ngeres dulu! Jangan dipotong-potong, “ANALITIS”!! yang lengkap!
Ow yoyoyo.

Jumat, 06 Mei 2016

Hujan Sore Hari


Menyisakan isak tangis seorang anak yang sedang bermain bersama gerombolannya di bawah rintik hujan. Aku berjalan di tepian jalan sambil menatap wajahnya dari kejauhan. Rintik tiada sudi berhenti. Anak itu menangis sambil menggenggam penuh di telapak tangan kanannya tanah berlumpur.

Ku hentikan langkahku dan berdiri mematung di balik pagar rumah tetangga: menyembunyikan diri. Aku mengintai mereka. Ku pikir: tak apalah berhenti sejenak menikmati panggung kehidupan ini. Sebenarnya, aku dalam perjalanan hendak membeli makan siang untuk istriku. Semoga nostalgia ini tidak menjadikannya marah atau galau karena mungkin terlambat pulang.

Rabu, 09 Maret 2016

GMT: Dikiranya Kerja Lembur


Diprediksi oleh berbagai kalangan, hari ini Rabu 9 Maret 2016 akan terjadi Gerhana Matahari Total yang bisa diamati di wilayah Indonesia. Hari ini juga bertepatan dengan perayaan Hari Nyepi bagi yang merayakan.

Cuplis, Ayo berangkat. Masjid sudah woro-woro tuh. Biar gak terlambat sholat gerhana.
Iya bentar. Sebentar, Jarno.
Kenapa sih?
Bentar aja. Aku mau ngecek ke kandang dulu. Itu sih Sijago ku kok sepertinya galau ya.
Halah, jan. marai mambu kalau sholat.
Sebentar aja.
Yo wes. Ndang ndang.

Selasa, 26 Januari 2016

Sabun Wangi


Meski sekarang telah menjadi kontraktor (maksudnya orang yang ngontrak rumah), jiwa anak kos masih melekat erat dalam lubuk hati terdalam dan lubang-lubang logika yang aku miliki. Untuk kalian yang pernah merasakan menjadi anak kos yang ditakdirkan memiliki kondisi ekonomi yang pas-pasan, pasti merasakan apa yang akan aku ceritakan tentang perabot mandi. Ya, selain memilih kos-kosan yang paling murah, perabot mandi merupakan bagian penting lain yang pasti diperhatikan, meski harus apa adanya.

Bagiku, seorang anak kos dengan ekonomi yang pas-pasan, mandi merupakan hal yang tidak harus dilakukan sehari dua kali. Secukupnya saja. Jika cukup sehari sekali, ya sekali saja. Jika cukup dua kali sehari, ya dua kali saja. Jika pas banyak-banyaknya, karena penyakit bujangan, ya secukupnya saja. Hal ini berdampak pada ketersediaan sabun, pasta gigi, dan shampoo.

Pada prinsipnya, penggunaan sabun, pasta gigi, dan shampoo didasarkan pada banyak atau sedikitnya buih yang tercipta agar bisa merata. Iklan-iklan sabun, pasta gigi, dan shampoo di televisi tidak berpengaruh secara signifikan untukku; yang mengandung vitamin E lah, yang wangi lah, yang cocok untuk gigi sensitive lah, yang memutihkan dan menjaga bau mulut lah, dan lah-lah yang lainnya. Aku tidak peduli.

Minggu, 03 Januari 2016

Penggrebekan 2016


Rencana ini harus berhasil, Jarno!!, bisik Cuplis.

Lilin penerang strategi Jarno dan Cuplis semakin memendek sebagai pertanda tiada lagi daya yang besar untuk menerangi rancangan strategi mereka di malam tahun baru 2016. Kesepakatan, langkah-langkah, sarana dan prasarana, dan mental telah semakin mendekati kata sepakat diantara keduanya. Waktu eksekusi tinggal beberapa menit lagi. Rumah yang dituju tidak jauh dari tempat mereka mengatur strategi, kira-kira hanya 10 menit jalan kaki. Sementara itu, tidak jauh dari tempat mereka, gemuruh petasan menyambar-nyambar di alun-alun desa.

Iya, Cuplis. Rencana ini harus berhasil. Waktunya pun tepat, malam tahun baru 2016. Aku yakin, semua penghuni rumah itu keluar untuk merayakan pergantian tahun, Jarno balas berbisik.

Selasa, 22 Desember 2015

Kalau Kamu Baca Status ini, Kamu Pengen Ngapain?


Kalau aku, pengen ngajak yang nulis status ini berantem!, jawab Cuplis.
Wuih, agresif lu Plis, respon Jarno melihat ekspresi Cuplis yang menggebu-gebu.
Emangnya aku ayam jago?
Miriplah dikit kalau tampak samping.
Maksud lu?
Ya, mirip dikit. Kan ayam jago gak ada yang banci. Lu kan agak banci. Kalau ada ayam jago yang agak banci, nah itu bisa mirip banget ma lu, Plis!
Juancuuuk!
Hahahaha… ra sah sok jantan ngunu ta!

Senin, 21 Desember 2015

Tatkala Semesta di Bawah Kaki Kita


Ingatkah kau, Jarno tatkala dulu kau masih duduk di bangku SMP?, tanya Om John.
Apa yang harus aku ingat Om?
Apa pun yang kau masih ingat.
Tidak ada yang musti diingat.
Cobalah, apa yang pernah kau lakukan dulu sehingga kau seperti sekarang ini.
Aku hanya ingat, dulu aku introvert.
Kemudian?
Aku sulit bergaul, hanya memiliki sedikit teman-teman sebaya, yang selalu bersama-sama ketika berangkat sekolah mengendarai sepeda, berkebut-kebutan di tegalan sawah, mampir di warung es ketan ireng sebelah kamar mayat setiap kali pulang sekolah, jatuh terserempet di perempatan Tugu Lawet kemudian disorakin oleh teman-teman dengan sebutan ‘goyang dombret’, selalu dihukum mengelilingi alun-alun kota tiap kali pelajaran olah raga karena tidak hafal gerakan-gerakan senam semi-militer, kemudian malah makan di warung angkringan, hemmm,,, apa lagi Om? Dan untuk apa ini semua? Aku tak paham.
Nah, kau ingat perlahan. Yang lain, yang lain, tentang pendidikanmu dan ujian nasionalmu dulu.

Rabu, 16 Desember 2015

Lapak Si Bunga, Bunga


Dalam perjalanan menuju ke sana, tampak sepasang bunga Amarilys tumbuh menyepi di tepi trotoar jalan. Mungkin mereka sedang berduka. Beberapa saat yang lalu di awal musim penghujan, mereka mendengar kabar berita tentang saudara mereka di dataran tinggi sana. Miris. Umur mereka tak panjang dan belum menyumbang ide apa-apa untuk keindahan alam sekitar. Sementara mereka pun terjebak pada situasi yang memaksa mereka hanya meratap duka.

Ancuk tenan ya, Jarno, ujar Cuplis.

Kamu misuh dan aku yang jadi sasarannya?, sahut Jarno.

Bukan, bukan kamu tapi kamu iya kamu, Cuplis nunjuk sesuatu yang absurd.

Eh lihat, Plis! Ini kan bunga yang heboh di Facebook itu tho. Yang tumbuh subur di Gunungkidul tapi terus musnah oleh para manusia.

Iya. Tumben otakmu punya ingatan yang baik.

Iya dong. Kalau tentang uang dan bunga, ingatanku tokcer!

Rabu, 02 Desember 2015

Aku Benarbenar Ingin Meminjam Mata Batinmu


Masih khusuk aku memandang sebait kata-kata dari orang tak aku kenal:
Sepasang tangan yang mengajakmu berdiri kala terjatuh lebih harus kau percayai daripada seribu pasang tangan yang menyambutmu kala kau ada di puncak kesuksesan
Lalu aku teringat pada orang tuaku, terutama ibuku. Dari latar belakang keluarga ibuku, pendidikan bukanlah hal utama dalam hidup. Tak seorang pun dari saudara ibu yang sempat mengenyam bangku kuliah. Semua dari mereka hanyalah tamatan SMA atau sederajat. Begitu juga ibu. Selepas lulus SMK, ibu langsung menikah dengan gurunya.

Berebda dengan keluarga bapakku. Pendidikan merupakan kemewahan dalam hidup. Mereka memiliki filosofi bahwa pendidikanlah yang akan mengangkat derajat hidup mereka. Maka, hampir seluruh keluarga besar bapakku adalah seorang sarjana, minimal. Ada beberapa yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Termasuk aku.

Selasa, 01 Desember 2015

Hari Ini, Setahun Yang Lalu


Aku beranikan diri datang menjemputmu. Diiringi doa dan puja-puji kepada sang Pencipta, aku jabat tangan orang tuamu. Ku dengarkan dengan seksama tiap kata yang terucap dari mulutnya. Pelan namun dalam. Hingga tiba saatnya ia memberikan isyarat, aku menjawabnya dengan sekali hembusan nafas.

Aku tak merasakan apa pun. Seketika dadaku lapang. Batinku hening. Tatapan mataku seolah enggan menyapaku sendiri. Sekajap. Hingga sahutan serempak orang-orang di sekitarku mengucapkan kata yang sama. Syah! Alhamdulillah.

Menangis? Tidak.

Selasa, 24 November 2015

Putus Nyambung Putus


Kemarau tahun ini, 2015, begitu istimewa: hampir sepanjang tahun. Disambut oleh ribuan bangunan hotel, sekumpulan pemuda dan orang-orang yang peka terhadap lingkungan juga ikut mendirikan komunitas #jogjaasat atau sejenisnya sebagai ekspresi penolakan terhadap berbagai bangunan pencakar tanah. Ya, pasalnya tidak sedikit warga yang mengeluh bahwa sumur mereka mengering.
Cuplis, coba nyalakan lagi saklar listriknya!, perintah Jarno kepada Cuplis.
Okay, Cuplis menyambungkan kembali arus listrik untuk membuat pompa air bekerja kembali.
Airnya belum naik, Plis.
Putus lagi?
Iya
Wah, sumur kita kering nih.
Gak kok, masih ada airnya tuh, lihat!!
Tapi kan pipanya tidak sampai menyentuh bibir air to??
Enggak
Itu permasalahannya!! Gimana bisa air naik!!
Jadi??
Jadi?? Jadi apa?
Kita butuh air!!

Rabu, 24 Juni 2015

Senandung Cinta Sang Nyonya


Rasa itu tak pernah pudar.
tak pernah pula ku pupuskan suatu harapan.
orkestra.
Tuhan kita Maha Luas.
Memintalah selalu kepadaNya tatkala tiap rengkuhan langkah kita
seperti menjangkau mangga di ujung pohon itu

selalulah bernyanyi
selalulah bernyanyi
selalulah bernaynyi
ke dalam tiap relung hati

Kamis, 04 Juni 2015

M, Hari Pertama


Cuplis belingsutan di teras BaitApat. Wajahnya sayu. Tak betah sekedar duduk atau berdiri barang sejenak. Selalu saja berpindah tempat. Entah sudah berapa kali. Terlihat enerjik memang bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam hitungan menit. Tetapi sesungguhnya, bukan enerjik tetapi lemah tiada bantah.
Masih sakit perutmu, Plis?, tanya Jarno sepulang dari warung membeli yang Cuplis butuhkan.
Masih, Jarno. Dan sekarang lihatlah aku, telah terkapar tiada daya macam ini. Lemes pisan euy…
Makanya jangan songong lu jadi orang. Kemarin nggodain mbok Sregep si penjual jamu itu sih. Dia kan manusia juga yang punya rasa lemes walaupun jual jamu kuat.
Ni lemesnya beda. Dia lemes muter-muter jual jamu, jalan kaki. Lha aku lemes karena M hari pertama cuy…
Itu kan cuma beda sebab aja, tetapi efeknya kan sam-sama lemes.

Jumat, 29 Mei 2015

Kortisol



Jarno, lagi apa kamu? Aku sampai dicuekin gini, ujar Cuplis.
Siapa lu?, jawab Jarno. Dia tetap pada kekhusukannya memandang layar smartphone.
Tega nian kau ini. Ya sudah. Aku mencari teman ngobrollain saja. Alat itu telah menjadi masalah. Menjauhkan yang dekat meski mendekatkan yang jauh. Tetapi kalau ada masalah di depan mata, apa iya akan meminta tolong yang jauh? Ya sudahlah.
Eh eh eh eits!!! Jangan gitu dong Plis. Ok ok, sorry. Aku lagi baca info penting nih tentang khalwat alias berdua-duaan antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrim dari grup whatsapp. Lihat ini.
Apa tuh? Asik gak?
Maksudnya?
Khalwat itu apa?

Jumat, 01 Mei 2015

Que Sera-Sera, No More!




Cuplis memarkir motornya di pelataran Gubuk BaitApat. Biasanya dia tidak sekasar itu memarkir motornya. Sengaja, agar Jarno memberikan perhatian atas kedatangannya. Tetapi tidak sesuai harapan Cuplis. Jarno masih asik menatap selembar kertas dan menggenggam sebatang pena, matanya menatap jauh ke langit yang kelabu, sembari digoda angin dan debu.
Woi, songong banget elu. Bos datang kagak disambut. Biasanya elu cium tangan gue, cuci kaki gue, bikinin gue minum. Sekarang gak nih?, sapa Cuplis.
Jarno tidak peduli. Angkasa pikirannya begitu luas saat itu, menyibak memori bertahun-tahun lalu yang kini terangkat karena kehadiran seseorang yang mirip dengannya. Sebenarnya Jarno tak lagi ambil pusing. Dia mampu move on atas kenangan itu yang membuatnya tiada lagi bertegur sapa sejak duduk di bangku kuliah. Hanya kesalahan kecil. Sungguh hanya kesalahan kecil.
Eh, elu kesambet apa sih? Setan petir yak?

Minggu, 15 Maret 2015

Pembeli Adalah Raja


John sedang duduk di teras Baitapat. Seperti setiap sore yang selalu dia lakukan. Menggumuli senja. Sebagai pensiunan PNS, dia merasa galau akhri-akhir ini oleh keputusan tuannya yang mengebiri gaji pensiunannya. Itu adalah sumber kehidupan dia sejauh ini. Bukan, dia bukan dalam kondisi yang rapuh karena keputusan itu. Tetapi dia hanya tidak mampu memikirkan betapa bodohnya dia dahulu ketika harus takluk oleh bujuk rayu dunia dengan memilih menjadi seorang abdi negara karena pilihan politknya. Dan bagaimana nasib jutaan PNS yang sudah terlanjur bodoh dan dibodohi oleh rutinitas semu selama bertahun-tahun yang membuat otak-otak mereka mahal harganya karena masih orisinil.
Cuplis dan Jarno datang dengan wajah layu pula. Duduk. Mereka tak saling memandang. Masing-masing larut dalam gelisahnya. Terpaksa, cicak menggugah mereka.

Minggu, 08 Maret 2015

Meratap di Bawah Portal

Malam ini sepi, dingin pula, gumam Cuplis.
Malam belum larut. Jam baru saja menunjukkan pukul 21.30. Tapi sepi. Bukan malam Jumat pula. Tapi memang malam ini sepi. Cuplis hanya bisa melompat-lompat mondar-mandir di sekitar tempatnya menikmati sepi malam.
Ooooiiiiiiii, suara datang dari belakang mengagetkan Cuplis.
Aduuuh duh duh duh, kaget deh ah, sahut Cuplis kaget.
Waaaahhhh sekong lu?, tanya Pocong 1.
Siapa yang sekong? Aku Cuma kaget kok, jawab Cuplis.
Eh ini siapa?, tanya bos Pocong pada kawan-kawannya.
Pocong baru bos, jawab Pocong 2.
Oooooo… lu anak baru di sini?, tanya bos Pocong pada Cuplis.
Penting buat kamu, mas???, jawab Cuplis.
We e e e e, berlagak lu yeee… anak baru dah berlagak yeee
Kasih pelajaran aja bos, bujuk Pocong 3.
Owww, jelas. Kita OSPEK ini anak baru, jawab bos Pocong. Eh, lu, ikut kita-kita, jangan so berlagak lu yee di sini sebelum lulus tantangan dari kita-kita. Berani gak lu??, tantang bos Pocong pada Cuplis sambil mendekatkan hidungnya ke muka Cuplis.
Kamu jual, aku beli, mas!
Mantap!, seru si bos. Ayok ikut gueeee, si bos melompat-lompat meninggalkan pekuburan Cuplis yang masih basah. Bau bunga-bunga kematian masih betebaran. Cuplis menutup pintu rumah barunya, melompat mengikuti kawanan pocong menuju sebuah gang kecil.
Aku kenal gang ini, gumam Cuplis. Ini kan menuju Gubug BaitApat. Setelah tikungan depan sana, akan ada portal yang baru saja direnovasi oleh teman-teman beberapa hari lalu.
Masuk gang, menuju tikungan.
Tuh kaan, gumam Cuplis. Ada portal berwarna hitam-putih sebagai tandan jam malam masyarakat.
Stoooooopppp, komando si bos. Kawan-kawan, jaga kepala masing-masing. Jangan sampai nyundul portal!!!, perintah si bos pakai nada tinggi.
Siap bos, laksanakan.
Di ujung portal, ada tulisan “Jam Malam Masyarakat: 10.00 p.m. - 05.00 a.m.”. Sampailah mereka di tegalan sawah tempat Cuplis biasa bermain bola semasa kecil. Di sana ada sebuah kursi kayu tua di bawah pohon beringin dan sebuah lampu jalan yang tidak selalu menyala.
Heh, anak baru, di sini lokasinya. Kita uji nyali. Rasakanlah! aura mistiknya sangat terasa, menirukan aktor-aktor di Dunia Lain.
Hei, plis deh, kita kan pocong. Pocong juga hantu kaleee…, Cuplis sewot.
Kamu kita uji nyali sebagai penghuni baru Kuburan Pendem. Kamu harus berada di sini sampai terdengar ayam berkokok. Setelah kamu mendengarnya, kamu harus langsung pulang ke kuburan melewati jalan yang tadi kita lewatin sebelum matahari terbit. Mengerti?
Gitu doang?
Berlagak luuu. Iya!!! Da masalah?
Ow, gak gak gak.
Di sana ada kamera, di sana ada kamera, dan di sana juga ada. Kalau gak kuat, lambaikan kedua kakimu. Mengerti??
Semplak ni bos, gumam Cuplis. Siap mengerti, jawab Cuplis.
Baiklah, selamat beruji nyali. Hahahaha. Kawan-kawan, ayo kita pesta di rumah sambil menunggu si anak baru ini selamat sampai batas waktunya.
Si bos dan kawanan pocong melompat kembali ke kuburan sambil menyanyikan alunan acapela mereka pada tiap lompatan: dum lala, dum lala, dumlala, uye uye, dan goyang pinggang. Makin menjauhi Cuplis.
Jam 11 berlalu. Jam 12 lewat sudah. Jam 1 pagi, aman.
Aduh,aku gak bawa jam ni. Jam berapa sekarang. Emangnya ada apa sih, kok sampai uji nyali di sini segala. Masa hantu kok dihantui.
Jam 2 lancar. Jam 3 lanjut. Jam 3.30, terdengar ayam berkokok.
Nah itu dia si ayam dah bangun. Uji nyali apaan nih kayak gini. Pulang ah.Gini doang?? aku mah bukan apa atuh. gampang.
Cuplis melompat-lompat pulang segera, khawatir mentari segera terbit. Pulang melewati jalan yang tadi dilewatin bersama. Sampailah pada tikungan berportal hitam-putih setinggi pinggang orang dewasa. Portal itu telah rubuh. Cuplis belum peduli. Barulah ketika sampai di dekatnya hendak melewati, Cuplis bingung.
Ini portal kenapa ngalangin jalanku sih. Mana aku gak bisa ngangkang pula. Lompat juga gak sampai bisa nglewatin ni portal. Gimana nih yak.
Cuplis terus mencoba melewati. Berbagai macam cara dia lakukan.
Halah, digembok pula. Duh, gimana nih lewatnya.
Portal itu digoyang-goyang tanpa arti. Kemudian Cuplis melirik tanda ‘Jam Malam Masyarakat’ di sisi kirinya.
Alamaaaaaaaaakkkkk. Ini baru dibuka jam 6??? Gilaaaa… woi woi woi, pak ronda, bangun bangun, bukain portalnya oiiiii… aku mau lewat!!! Aduh aduh,,,
Pikiran Cuplis melayang semasa SMA. Yang dulu sering berlagak sok terhadap hantu-hantu China, yang kalau ditempeli kertas langsung diam tapi lompatannya luar biasa tinggi. dan dia gunakan itu untuk mengejek pak Bambang.
Pak Bambang, aku minta maaf, dulu sering kabur pas pelajaran lompat tinggi. Aku gak tau kalau akhirnya aku musti jadi pocong macam ini. Portal setinggi ini aja aku gak bisa melompati.  Ampun pak Bambang, ampun.
Dalam ratapannya itu, tinjuan semeber air tiba-tiba menyadarkan Cuplis dari ratapannya.
Woi Cuplis, bangun!!! Denger Adzan Magrib gak oiii??? Bangun!!!
Astagfirullah
Ngapain kamu teriak teriak minta ampun?, tanya Om John.
Alhamdulillah, aku masih hidup. aku mau ketemu pak Bambang, bergegas lari tanpa arah.

Kamu, Kesendirianku


Harus aku akui bahwa aku kehilangan kamu. Kini aku seperti terjebak dalam lingkaran yang tak pasti namun terlihat begitu pasti. Terjerat untuk tidak melihat dunia lain selain apa yang kulihat saat ini. Aku merasa begitu cupu dan bodoh. Dunia diluar begitu agung semnetara aku hanya terjerembab pada ruang kosong berukuran sekian meter berbentuk kotak. Dan berteman beberapa orang kawan. Berteman?
Bagi teman satu-satunya yang mampu mengerti aku adalah kamu. Tipe ku bukan seorang yang mampu bergaul dengan banyak orang. Aku masih ingat, ketika komentar seorang kawan yang untuk pertama kalinya berjumpa denganku: kamu adalah orang angkuh yang egois pada drimu sendiri. Ya, aku mengetahui pandangan itu. Aku seorang yang introvert. Lebih eksrim lagi, aku layaknya seorang autis yang larut pada duniaku sendiri, aku tak peduli. Aku punya ketertarikan dan aku pun tak meminta mereka tertarik pada apa yang membuat ku tertarik. Tetapi lambat laun, mereka yang lama mengenal aku, mereka akan tau seperti apa aku. Jelas, kita telah berteman selama bertahun-tahun.
Aku juga masih ingat beberapa tahun lalu sebelum aku berada pada posisiku saat ini. Keasyikan berada di tempat yang lebih tinggi, bercengkrama dengan sepoi angina pagi dan sore, berjumpa terik matahari, mendengar kicau dan riuhnya penjaja makanan dipinggri jalan kota, dan terkadang aku berjumpa dengan pecintaku: hujan dan angin. Tapi kini yang terakhir itu sungguh mengerikan. Sampai-sampai aku tak berani menatapnya. Tampaknya, cuaca telah merubah perangainya yang tenang menjadi liar. Di situ kadang aku merasa sedih. Tetapi yang masih membuatku bahagia adalah hujan tetaplah seorang makhluk yang jujur.
Kamu, dimana kamu? Apakah aku tak lagi pantas untuk mengenangmu walau kita tak lagi pernah berjumpa? Ataukah kamu sengaja menyembunyikan diri dan tak mau dikenang walau sepersekian detik. Ataukah … ah sudahlah, aku tak tau lebih dalam. Yang pasti adalah aku meminta maaf padamu.
Ini sifat manusiaku bahwa segala sesuatu yang datang setiap hari secara rutin kadang membuat ku lupa untuk bersyukur. Sementara mereka yang datang tidak setiap hari, bahkan hanya sekali seumur hidup, akan terkagum-kagum melihatnya. Ya, begitulah yang terjadi ketika aku sedang bedua denganmu saat senja yang mendung itu. Seorang wanita yang baru saja mengenal dunia kotak kosong kita mengunjungi suatu tmepat di belakang yang biasa menjadi tempat kita berjumpa: di ujung gedung, berlatarkan ribuan gunung yang menjalar dari ujung pantai hingga kaki Merapi. Di sana pula aku sering menghabiskan waktu untuk menatap mu dalam rinai hujan ataupun senjakala. Wanita itu berkata, “Wow, I never know if we have this beautiful place. Why do not you tell me this?
Jelas saja aku takkan pernah memberitaumu karena ini tempat kami memadu kasih. Dia tampak begitu senang mengetahui tempat itu tetapi aku yang hamper tiap hari berada di tempat itu, merasa biasa saja. Tidak ada yang “wow” seperti yang dia bilang.
Aku kurang bersyukur ketika kamu berada di sisiku saat dulu kala itu. Aku mengutukmu sebagai sebuah aib. Aku menghardikmu sebagai sebuah benalu. Tetapi kau bergeming hingga aku pergi dari rumah untuk bertemu dengan kawanan manusia dan bercanda. Saat itu kau pergi, tetapi masih mengintaiku. Apakah aku tidak tau? Jelas, aku tau kau mengintaiku. Dari sudut matamu ada sudut mataku yang tak kau ketahui. Setiap apa yang kau lihat, aku pun melihatnya. Matamu bukan mataku, mataku pun bukan matamu tetapi di dalam matamu ada aku.
Dan kini benar-benar aku rasakan ketidakhadiranmu. Barangkali kau telah putus asa mengetahui bahwa aku selalu habiskan seluruh waktuku hanya untuk yang lain. Aku sungguh merindukamu dan sungguh aku takkan lagi menjadi aku yang dulu: yang tak pandai bersyukur. Tidakkah sejarahpun memiliki wajah sayu dan bahagia? Begitu pula aku.
Kamu adalah aku. Di dalammu ada aku, aku, aku, dan aku yang lain yang berbincang-bincang mengukir mimpi, cinta, dan cita. Dan kesendirian tidak sama dengan kesepian.

Selasa, 03 Maret 2015

Kau yang Segera Menghilang Dari Sekitarku




Kau segera menghilang dari sekitarku ketika ku palingkan wajahku ke kanan kemudian ke kiri saat dhuhur itu. Dan ku sadarkan diriku dari asyik masyuk ku untuk merasai kehadiranmu. Ku tata dudukku sedikit ke belakang dari shaf sholat awal. Berdizikir. Kau berdiri, berjalan menuju kanan ku kemudian mengangkat kedua tanganmu: Takbiratul Ihram. “Dia sedang sholat Rawatib”, pikirku dalam sela dzikirku. Hanya selang beberapa menit saja, ku palingkan kembali wajahku ke arahnya, dia hilang. Tiadapun jejak yang bisa aku telusuri.
Tuhan, Kau hadirkan satu makhlukMu yang membuat ku sedikit tidak khusuk dalam sholatku. Aku mohon ampun atas ketidakkhusukkan itu.
Sebelah kiriku kosong dalam barisan shaf sholat Dhuhur. Memang tidak ada yang mengisi sampai rakaat kedua. Karena sebelumnya pun aku berpikir, ruang ini terlalu sempit untuk diisi oleh seseorang, bahkan anak kecil. Tetapi memasuki rakaat ketiga, lelaki itu datang dan memposisikan diri di sebelah kiriku. Bau agak menyengat langsung tercium dari lubang hidungku. “Duhai Allah, hatiku miris melihat hambaMu yang sholat disebelahku dengan kondisi semacam itu”, batinku dalam sela bacaan sholatku.

Sabtu, 20 Desember 2014

Hidung Mancung


Tenang aja Cuplis, jangan minder macam itu.
Tenang aja Cuplis, jangan minder seperti itu, Jarno kali ini akur sama Cuplis. Dia membela kawannya itu.
Aku gak minder, Jarno. Hanya saja gak pede berada diantara mereka di kampus.
Sama aja keleeeesss.
Gubug Baitapat sore itu sepi. Paman Pithak dan Om John sedang menghadiri acara rutin RT di rumah pak RT. Biasa menjelang konsolidasi gerakan masyarakat madani. Apalagi menjelang MUSYDA DIY 2014 yang mana hampir semua uwong sibuk mempersiapkan diri, Kampung Baitapat sibuk konsolidasi juga.
Jadi aku harus gimana ya, Jarno?
Copot aja hidungmu, dan tinggal di rumah kalau kamu ke kampus.
Hust,, saru kamu nih. Mana bisa!!!