Bulan Mei 2015
menyuguhkan kesempatan libur panjang. Setidaknya, bagi para buruh dan pegawai
kantoran, ada hari libur 4-5 hari. Itu pun dengan strategi yang jitu untuk
meminta izin di hari yang diapit oleh hari libur untuk meliburkan diri. Begitu pula
saya dan apa yang telah saya lakukan. Ditambah, ada jatah hari yang diliburkan
karena faktor lanjut studi. Lima hari saya mendapatkan jatah liburan.
Semasa kuliah,
liburan merupakan kata yang cukup asing ditelinga saya. Hampir tak pernah saya
peduli dengan hari libur karena bagi seorang aktivis kampus, hari libur adalah
hari untuk rapat dan konsolidasi. Atau bis ajuga dijadikan sebagai hari
pertemuan jodoh.
Liburan juga
suatu aktivitas yang sangat jarang sekali saya lakukan. Kata orang, liburan
merupakan sarana jitu untuk menghilangkan stress atau penat kerja selama
waktu-waktu padat yang telah dilalui. Kemudian pertanyaannya, bagi saya yang
tidak tertarik untuk liburan, apakah saya berarti tidak stress? Atau malahan
saya tidak punya kerjaan yang membuat stress? Tentu tidak. Bagi saya, liburan
sebagai sarana untuk menghilangkan stress karena penat bekerja adalah omong
kosong. Hal tersebut saya alami dan amati sejak saya lulus kuliah dan memulai
rutinitas pekerjaan.






